Jumlah Shalat Sunnah Rawatib Sehari Semalam


Jumlah Shalat Sunnah Rawatib Sehari Semalam

SHALAT RAWATIB


Diantara fungsi Shalat Sunnah adalah untuk menyempurnakan
Shalat Fardhu. Nabi a bersabda;

“Amalan yang yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba
pada hari Kiamat adalah shalat(nya). Jika shalatnya baik, maka
sungguh ia akan sukses dan selamat. Dan jika kurang, maka sungguh ia
telah celaka dan merugi. Jika dalam shalat wajibnya ada yang kurang,
maka Rabb Yang Maha Agung lagi Maha Mulia berfirman, “Lihatlah,
apakah hambaKu memiliki Shalat Sunnah. Maka shalat wajibnya
disempurnakan dengan Shalat Sunnah tersebut. Kemudian (dihisablah)
seluruh amalan (wajibnya) sebagaimana (amalan shalat) tadi.”

(HR. Tirmidzi Juz 2 : 413. Hadits ini dishahihkan oleh
Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah Juz 3 : 1358)



DEFINISI SHALAT SUNNAH RAWATIB


Shalat Sunnah Rawatib adalah shalat sunnah yang dilaksanakan
sebelum atau sesudah Shalat Fardhu.

MACAM SHALAT SUNNAH RAWATIB


Shalat Sunnah Rawatib dibedakan menjadi 2 macam :

I. MUAKKAD (Sangat Ditekankan)


Shalat Sunnah Rawatib yang Muakkad sebanyak 12 raka‟at.
Berdasarkan hadits dari Ummu Habibah i -istri Nabi a- ia berkata,
Aku mendengar Rasulullah a bersabda;

”Tidaklah seorang hamba muslim mengerjakan Shalat karena Allah
setiap hari 12 raka’at shalat sunnah di luar Shalat Fardhu, melainkan
Allah akan membangun sebuah rumah untuknya di Surga. Atau
melainkan akan dibangunkan baginya sebuah rumah di Surga.”


12 Raka‟at tersebut antara lain adalah :

a. 2 Raka’at Qabliyah (sebelum) Shubuh


Shalat Sunnah Rawatib yang paling ditekankan adalah shalat
sunnah 2 raka‟at Qabliyah Shubuh. Shalat Sunnah Qabliyah Shubuh
dikenal juga dengan sebutan Shalat Sunnah Fajar. Diriwayatkan dari
Aisyah i dari Nabi a, beliau bersabda;
“Dua raka’at (Shalat Sunnah) fajar lebih baik dari dunia dan seisinya.”
(HR. Muslim Juz 1 : 725)

Ibnu Qayyim t dalam Zadul Ma’ad 1/315 berkata;
“Beliau (Nabi a) tidak pernah meninggalkannya, yaitu Shalat Sunnah
Fajar dan Shalat Witir, baik pada saat safar maupun saat bermukim.
Pada saat bepergian, beliau rutin mengerjakan shalat sunnah Fajar dan
Witir dibandingkan semua shalat sunnah lainnya.”

Catatan :

  • Disunnahkan melaksanakan Shalat Qabliyah Shubuh secararingkas (iqtishar). „Aisyah i ia berkata;“Nabi a meringkaskan 2 raka‟at sebelum Shalat Shubuh sampai aku bertanya, “Apakah beliau membaca Ummul Kitab (AlFatihah)?”(Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari : 1171 dan Muslim : 724)
  • Dianjurkan membaca surat Al-Kafirun pada raka‟at pertama danmembaca surat Al-Ikhlas pada raka‟at kedua. Dari Abu Hurairah ia berkata; ”Sesungguhnya Rasulullah a membaca (surat) pada 2 raka‟at (Shalat Sunnah) Fajar ”Qul Ya Ayyuhal Kaafirun” dan ”QulHuwallahu Ahad.” (HR. Muslim Juz 1 : 726). Atau membaca Surat Al-Baqarah ayat 136 dan Surat Ali „Imranayat 64. Diriwayatkan dari Ibnu ‟Abbas y ia berkata; “Rasulullah a membaca pada 2 raka‟at Fajar, “Katakanlah (hai orang-orang mukmin),”Kami beriman kepada Allah dan apa yangditurunkan kepada kami.” (QS. Al-Baqarah : 136). Dan ayat dariSurat Ali „Imran, “(Katakanlah, “Hai Ahli Kitab), marilah(berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu.” (QS. Ali „Imran : 64).”(HR. Muslim Juz 1 : 727)
  • Dimakruhkan melakukan shalat sunnah lain setelah terbit fajar,selain 2 raka‟at Shalat Sunnah Fajar. Ini adalah pendapat mayoritas ulama‟ salaf, diantaranya; Al-Hasan Al-Bashri, An-Nakha‟i, dan Sa‟id bin Musayyib n. Diantara dalilnya adalah Dari Hafshah ia berkata; “Rasulullah a ketika telah terbit fajar beliau tidak shalat (sunnah)kecuali 2(dua) raka‟at yang pendek.” (HR. Muslim Juz 1 : 723.
  • Imam para tabi‟in, Sa‟id bin Musayyib t mengatakan;“Bahwa ia pernah melihat seseorang melaksanakan shalat (sunnah)lebih dari 2(dua) raka‟at setelah terbit fajar dan ia memperbanyak ruku‟ didalamnya, maka beliau melarangnya. Orang tersebut berkata, “Wahai Abu Muhammad, apakah Allah q akan menyiksaku karena shalatku ini?” beliau menjawab, “Tidak, tetapi Ia akan menyiksamu karena engkau telah menyelisihi sunnah.” (HR. Baihaqi. Dishahihkan sanadnya oleh Syaikh Al-Albani t dalam Irwa’ul Ghalil 2/236)
  • Dianjurkan untuk berbaring setelah Shalat Qabliyah Shubuh, jika shalat shalat tersebut dilakukan dirumah (bukan dimasjid) dan tidak dikhawatirkan tertidur hingga terlewatkan Shalat Shubuh. Dari Abu Hurairah y bahwa Rasulullah a bersabda; “Apabila seorang diantara kalian selesai shalat 2 raka’at sebelum shalat Shubuh, hendaknya ia berbaring atas sisinya yang kanan.”(HR. Tirmidzi : 420, Abu Dawud : 1261, dan Ahmad)
  • Apabila seorang telah terbiasa melakukan shalat sunnah Fajar lalu terluput darinya, maka disyari‟atkan untuk mengerjakannya secara langsung setelah selesai shalat Shubuh atau yang lebih utama mengerjakannya setelah terbit matahari (setinggi tombak). Dari Abu Hurairah y ia berkata, Rasulullah a bersabda; ”Barangsiapa yang belum mengerjakan 2 raka’at shalat sunnah Fajar, maka hendaklah ia kerjakan setelah terbitnya matahari.” (HR. Tirmidzi Juz 2 : 423)

b. 4 Raka’at Qabliyah Zhuhur


Dari „Aisyah i ia berkata;
 “Bahwa Nabi a tidak meninggalkan (shalat sunnah) 4 raka‟at sebelum
Zhuhur dan 2 raka‟at sebelum Shubuh.”
(HR. Bukhari : 1182, Abu Dawud : 1240)

Hikmah ditekankannya Shalat Qabliyah Zhuhur adalah karena pada
waktu itu pintu-pintu Surga terbuka. Diriwayatkan dari ‟Abdullah bin

“Sesungguhnya Rasulullah a shalat 4 raka‟at setelah tergelincirnya
matahari sebelum (Shalat) Zhuhur. Beliau bersabda, “Pada waktu itu
pintu-pintu Surga terbuka, maka aku senang amal shalihku naik saat
itu.” (HR. Tirmidzi Juz 2 : 478. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh
Al-Albani )

Shalat Qabliyah Zhuhur tersebut dilakukan dengan 2 raka‟at 2
raka‟at. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi‟i dan Imam Ahmad n.
Berdasarkan keumuman hadits dari Ibnu „Umar p dari Rasulullah a
sesungguhnya beliau bersabda;

”Shalat malam dan siang hari adalah 2 (raka’at) 2 (raka’at).”
(HR. Ibnu Majah : 1322. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh
Al-Albani )

c. 2 Raka’at Ba’diyah (sesudah) Zhuhur


‟Aisyah i berkata;

“(Rasulullah a) shalat dirumahku sebelum (Shalat) Zhuhur (sebanyak)
4 raka‟at, lalu beliau shalat (mengimami) manusia, lalu masuk (ke
rumah) shalat 2 raka‟at (Ba’diyah Zhuhur).” (HR. Muslim Juz 1 : 730)

d. 2 Raka’at Ba’diyah Maghrib


Diantara dalil tentang disyari‟atkannya Shalat Ba’diyah Maghrib
adalah riwayat dari Ibnu ‟Umar p. Dianjurkan membaca surat AlKafirun pada raka‟at pertama dan membaca surat Al-Ikhlas pada raka‟at
kedua. Dari ‟Abdullah bin Mas‟ud y sesungguhnya ia berkata;

”Aku tidak bisa menghitung berapa kali aku mendengar Rasulullah a
membaca pada 2 raka‟at sesudah Maghrib dan 2 raka‟at sebelum
Shubuh, ”Qul Ya Ayyuhal Kaafirun” dan ”Qul Huwallahu Ahad.”
(HR. Tirmidzi Juz 2 : 431)



e. 2 Raka’at Ba’diyah Isya’


Dalil tentang Shalat Ba’diyah Isya‟ adalah diriwayatkan dari Ibnu
‟Umar p, ia berkata;

“Aku pernah melaksanakan shalat bersama Rasulullah a sebelum
Zhuhur 2 raka‟at, sesudahnya 2 raka‟at, sesudah Maghrib 2 raka‟at,
sesudah Isya‟ 2 raka'at dan sesudah Jum‟at 2 raka‟at.”
(Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari : 937 dan Muslim : 729)

II. GHAIRU MUAKKAD (Tidak Ditekankan)


Shalat Sunnah Rawatib yang Ghairu Muakkad antara lain;

a. Tambahan 2 raka’at setelah Shalat Ba’diyah Zhuhur


Dari Ummu Habibah i ia berkata, Aku mendengar Rasulullah a
bersabda;
”Barangsiapa memelihara 4 raka’at sebelum Zhuhur dan 4 raka’at
setelahnya, niscaya Allah mengharamkan api neraka darinya.”
(HR. Tirmidzi : 428 dan Ibnu Majah : 1160. Hadits ini
dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani )



b. 4 Raka’at Qabliyah Ashar


Dari Ibnu ‟Umar p bahwa Rasulullah a bersabda;
”Semoga Allah memberi rahmat orang yang shalat 4 raka’at sebelum
Ashar.”
(HR. Tirmidzi : 428, Abu Dawud : 1257. Hadits ini dihasankan

Shalat sunnah 4 raka‟at sebelum Ashar dilakukan dengan 2 raka‟at 2 raka‟at.
Ini adalah pendapat Ishaq bin Ibrahim, Imam Asy-Syafi‟i dan
Imam Ahmad n. Berdasarkan keumuman hadits dari Ibnu „Umar p
dari Rasulullah a sesungguhnya beliau bersabda;

”Shalat malam dan siang hari adalah 2 (raka’at) 2 (raka’at).”
(HR. Ibnu Majah : 1322. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh
Al-Albani )

Dan hadits dari „Ali ia berkata;


”Dahulu Nabi a biasa mengerjakan shalat 4 raka‟at sebelum shalat
Ashar. Beliau memisahkan antara (2 raka‟at 2 raka‟at) tersebut dengan
mengucapkan salam pada Malaikat Muqarrabin (yang didekat Allah),
dan yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan muslimin dan
mukminin.” (HR. Tirmidzi Juz 2 : 429)

c. 2 Raka’at Qabliyah Maghrib


Dari „Abdullah Mughaffal Al-Muzanni y bahwa Rasulullah a
bersabda;
“Lakukanlah shalat (sunnah) sebelum shalat Maghrib. Kemudian beliau
bersabda pada kali ketiga, “Bagi siapa yang menginginkannya.””
(HR. Bukhari Juz 1 : 1128)

d. 2 Raka’at Qabliyah Isya’


Berdasarkan keumuman hadits dari ‟Abdullah bin Mughaffal y ia
berkata, Nabi a bersabda;
“Antara dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalat (sunnah), antara dua
adzan (adzan dan iqamah) ada shalat (sunnah),” kemudian Nabi a
bersabda pada kali ketiga, “Bagi siapa yang menginginkannya.”
(HR. Bukhari Juz 1 : 601)



Catatan :

~ Disunnahkan memisahkan antara Shalat Fardhu dengan Shalat
Sunnah Rawatibnya dengan cara berpindah tempat atau berbicara.
Diriwayatkan dari As-Sa‟ib bin Yazid , beliau berkata;

”Aku melakukan shalat Jum‟at bersama (Mu‟awiyah y)) di AlMaqshurah. Setelah salam, aku lalu berdiri ditempatku (melakukan
shalat Jum‟at) dan melakukan shalat (sunnah ditempat tersebut).
Ketika beliau masuk, beliau mengutus seorang kepadaku, ia
berkata, “Janganlah engkau ulangi apa yang engkau lakukan. Jika
engkau selesai melakukan shalat Jum‟at, maka janganlah langsung
menyambungnya dengan shalat (yang lain) hingga engkau
berbicara atau keluar. Karena Rasulullah a memerintahkan hal itu
kepada kami, (yaitu) jangan menyambung shalat (Jum‟at) dengan
shalat (yang lain) hingga kami berbicara atau keluar.”
(HR. Muslim Juz 2 : 883, lafadz ini miliknya,
Abu Dawud : 1129)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t mengatakan;

“Dan yang sunnah adalah memisahkan antara Shalat Fardhu
dengan Shalat Sunnat dalam Shalat Jum‟at dan yang lainnya
dengan bangun dari tempatnya maupun dengan pembicaraan”

~ Shalat Sunnah Rawatib boleh dilaksanakan dimasjid namun yang
paling utama adalah di rumah. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit,Nabi a bersabda;

”Maka shalatlah, wahai sekalian manusia di rumah kalian.
Karena, sesungguhnya shalat yang paling utama adalah shalatnya
seseorang di rumahnya, kecuali Shalat Fardhu."
(Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari : 731, lafazh ini miliknya

Terutama untuk shalat Ba’diyah Maghrib, sangat dianjurkan untuk
dilakukan dirumah. Berdasarkan hadits dari Rafi‟ bin Khudaij  ia
berkata;

”Rasululah a pernah mendatangi Bani Abdul Asyhal. Kemudian
beliau mengerjakan shalat Maghrib dimasjid mereka. Beliau
bersabda, ”Shalatlah 2 raka’at (sesudah shalat Maghrib) ini
dirumah kalian.” (HR. Ibnu Majah : 1165)

~ Shalat sunnah boleh dikerjakan dengan duduk, meskipun seorang
mampu melakukannya dengan berdiri. Dan barangsiapa
mengerjakan shalat sunnah dengan duduk tanpa udzur maka ia
akan mendapatkan setengah dari pahala orang yang mengerjakan
shalat sambil berdiri. Hal ini berdasarkan hadits dari ‟Abdullah bin
‟Amru y ia berkata, sesungguhnya Rasulullah a bersabda;

”Shalat seseorang dengan duduk itu (pahalanya) setengah shalat
(dengan berdiri).”
(HR. Muslim Juz 1 : 735, dan Abu Dawud : 950)

Tetapi jika ada udzur maka pahalanya sama dengan pahala orang
yang shalat dengan berdiri. Sementara orang yang mengerjakan
Shalat Sunnah dengan berbaring karena ada udzur maka pahalanya
juga sama seperti orang yang mengerjakannya dengan berdiri. Dan
jika ia mengerjakannya tanpa udzur maka ia akan mendapatkan
setengah dari pahala shalatnya orang yang duduk. Ini adalah
pendapat yang dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim AtTuwaijiri 

MARAJI’

1.   Al-Jami’ush Shahih, Muhammad bin Ismai‟l Al-Bukhari.
2.   Al-Jami’ush Shahih Sunanut Tirmidzi, Muhammad bin Isa AtTirmidzi.
3.   Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz, ‟Abdul ‟Azhim bin
      Badawi Al-Khalafi.
4.   As-Silsilah Ash-Shahihah, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
5.   Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Al-Hafizh Ibnu Hajar AlAsqalani.
6.   Fiqhus Sunnah lin Nisaa’i wa ma Yajibu an Ta’rifahu Kullu
      Muslimatin minal Ahkam, Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim.
7.   Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jaza‟iri.
8.   Mukhtasharul Fiqhil Islami, Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.
9.   Shahih Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Madzahib AlA’immah, Abu Malik Kamal bin          As-Sayyid Salim.
10. Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi.
11. Sunan Abu Dawud, Abu Dawud.
12. Sunan Ibnu Majah, Ibnu Majah.
13. Syarhul Asbabil Asyaratil Mujibah li Mahabbatillah, ‟Abdul ‟Aziz Musthafa.

0 Response to "Jumlah Shalat Sunnah Rawatib Sehari Semalam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel