Ibadah Yang Bisa Di Qadha' dan Tidak Bisa

Penjelasan Jenis Ibadah Yang Bisa Di Qadha dan Tidak

Para ulama sepakat bahwa tidak semua
ibadah bisa dan sah untuk diqadha'. Sebagian
ibadah memang bisa diqadha' apabila terlewat
waktu dari mengerjakannya. Namun sebagian lain
tidak bisa diqadha' apabila telah lewat waktunya.
Ibadah Yang Bisa Diqadha' dan Tidak  Bisa


Ibadah Yang Tidak Bisa Diqadha'


Ada beberapa contoh ibadah yang tidak bisa
diqadha' misalnya shalat Jumat dan shalat sunnah
mutlak. Selain itu ibadah yang memang telah
diharamkan pada orang tertentu untuk
mengerjakannya, seperti wanita yang mendapat
darah haidh dan nifas untuk tidak mengerjakan
shalat.

a. Shalat Jumat



Shalat Jumat adalah ibadah yang hanya sah
dikerjakan pada waktunya dengan berjamaah.
Dan apabila shalat Jumat pada suatu masjid telah
usai dikerjakan, lalu ada orang yang datang
terlambat, maka dia tidak bisa mengqadha' shalat
Jumat itu sendirian.

Yang harus dia lakukan saat itu adalah bukan
mengqadha' shalat Jumat, melainkan kembali
kepada shalat aslinya, yaitu shalat Dzhuhur. Shalat
Dzhuhur bukanlah shalat Jumat, sehingga tidak
dikatakan sebagai qadha'.

b. Shalat Sunnah Mutlak


Shalat sunnah mutlak tidak punya waktu
tertentu untuk dikerjakan. Shalat ini bebas
dikerjakan kapan saja, asalkan bukan pada waktu waktu
yang terlarang untuk dikerjakan.
Dan karena itu kita tidak mengenal
penggantian atau qadha' untuk shalat sunnah
yang satu ini.

c. Shalat Wanita Haidh dan Nifas


Para ulama sepakat bahwa wanita yang
sedang mendapat darah haidh dan nifas tidak
dibolehkan untuk mengerjakan shalat. Dan shalat
yang ditinggalkan tidak diperintahkan Allah untuk
diqadha’.

Baca JUga : 

Keutamaan dan Hikmah Shalat Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah


Hal itu karena pada dasarnya wanita yang
sedang haidh dan nifas telah gugur dari kewajiban
untuk mengerjakan shalat. Kalau shalat sebagai
kewajiban dasarnya sudah tidak diwajibkan, maka
tidak dibutuhkan lagi qadha' atasnya.

Ibadah Yang Bisa Diqadha'


Ibadah yang disyariatkan untuk diqadha' bila
telah terlewat waktunya terbagi menjadi dua
macam. Ada yang bisa diqadha' kapan saja tanpa
terikat dengan waktu, namun ada juga yang
terikat dengan waktu, sehingga qadha' yang
dilakukan harus sesuai dengan jadwalnya.

a. Diqadha’ Kapan Saja


Maksudnya bahwa penggantain atau qadha
boleh dilakukan kapan saja, tanpa harus terikat
dengan waktu atau jadwal tertentu. Jadi kapan
saja bisa dilakukan qadha’. Diantaranya adalah
hewan udhiyah, dan shalat lima waktu yang
ditinggalkan.

Bila seseorang terlewat dari menyembelih
hewan qurban, maka menurut sebagian ulama,
hewan itu boleh disembelih kapan saja, tanpa
harus menunggu tahun depan ketika datang
bulan Dzulhijjah.

Baca Juga : 

Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid Bagi Laki Laki


Demikian juga dengan shalat lima waktu yang
ditinggalkan karena sebab tertentu, maka boleh
diganti dengan mengqadha’ shalat tersebut kapan
saja, tanpa harus menunggu waktu yang sama.
Namun bukan berarti boleh ditunda-tunda,
sebaliknya justru lebih utama kalau dikerjakan
sesegera mungkin, agar segera bisa terlepas dari
hutang kepada Allah.

b. Diqadha' Pada Waktunya


Maksudnya adalah ibadah yang bila terlewat
dari mengerjakannya, maka untuk menggantinya
harus dilakukan pada waktu tertentu, tidak sah
kalau dikerjakan di luar waktu tersebut. Di
antaranya adalah ibadah haji dan shalat Idul Fithri
atau Adha.

Seseorang yang terlewat dari mengerjakan
ibadah haji karena sesuatu hal, maka dia hanya
boleh mengqadha’nya ketika nanti tahun depan
masuk lagi bulan haji. Dia tidak boleh
mengerjakannya di luar bulan-bulan haji.
Dasarnya adalah sabda Rasulullah SAW bahwa
haji itu hanya dilakukan pada hari Arafah :

َ َ‫اْل َُّجَعرفة‬
Haji adalah (wuquf di ) Arafah (HR. Abu Daud dan
Al-Hakim)


Demikian juga shalat Idhul Fithri dan Idul
Adha yang terlewat waktunya, maka cara
mengqadha’ nya menunggu keesokan harinya
ketika waktu dhuha’.

Baca juga : 

Tuntunan Bacaan Dalam Shalat Lengkap PDF


Hal itu seperti yang terjadi pada Rasulullah
SAW yang terlewat dari mengerjakan Shalat Idul
Fithri, akibat terlambat mendapat berita jatuhnya
tanggal 1 Syawwal. Maka beliau dan para
shahabat mengqadha’ shalat Idul Fithri pada pagi
hari keesokan harinya, yaitu tanggal 2 syawwal.

Yang Berkewajiban Mengqadha'


Tidak semua orang yang meninggalkan shalat
diwajibkan untuk mengqadha' shalatnya. Hanya
orang-orang tertentu saja yang diwajibkan.
Sebagian lainnya memang tidak diperintah untuk
mengqahda' shalat yang ditinggalkan karena satu
dan lain hal.

1. Yang Berkewajiban


Jumhur ulama sepakat bahwa mereka yang
berkewajiban untuk mengerjakan qadha' adalah
orang yang meninggalkan shalat, baik karena
terlupa, tertidur, terhambat dengan sesuatu hal,
atau pun juga karena sengaja meninggalkannya.
karena murtad lalu masuk Islam kembali,
orang yang meninggalkan shalat karena mabuk
dan orang yang sengaja meninggalkan shalat.

a. Murtad


Mazhab Asy-Syafi'iyah berketetapan bahwa
hukuman buat seorang muslim yang sempat
murtad sebentar lalu kembali lagi masuk Islam
adalah bahwa dia diwajibkan untuk mengganti
semua shalat yang telah ditinggalkan selama masa
murtadnya itu.
Bahkan meski selama murtad dia
mengerjakan shalat, namun karena tidak sah
shalat dikerjakan oleh orang kafir, maka dia tetap
wajib mengganti shalatnya, karena dianggap tidak
sah.

b. Mabuk


Orang yang mabuk dengan sengaja dan
karena mabuknya itu dia jadi meninggalkan
sejumlah shalat fardhu, maka dia wajib
menggantinya di hari yang lain seusai sadar dari
mabuknya.

c. Sengaja


Jumhur ulama sepakat bahwa meski
seseorang meninggalkan shalat karena sengaja
dan tanpa udzur syar'i, dia tetap diwajibkan untuk
mengqadha'.

Baca Juga : 

Hukum Shalat jumat dan Keutamaan


Bahwa meninggalkan shalat fardhu dengan
sengaja itu berdosa sangat besar, namun bukan
berarti kewajban untuk menggantinya di waktu
lain menjadi gugur. Dosa besar yang dilakukan
dengan sengaja tanpa udzur tidak membuat
sebuah kewajiban menjadi gugur.
Hujjah yang digunakan oleh Jumhur ulama
dalam hal ini antara lain :

Orang BerjimaDiwajibkan Qadha Bulan Ramadhan

sebagaimana ketentuan yang berlaku buat
orang yang secara sengaja membatalkan puasa
tanpa udzur yang syar'i. Selain diwajibkan untuk
membayar denda kaffarat, yang bersangkutan
tetap diwajibkan untuk mengganti puasa yang
dirusaknya saat dia membatalkannya dengan
sengaja.

Dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah SAW
memerintahkan kepada orang yang bersetubuh
di siang hari bulan Ramadhan untuk mengganti
puasanya bersama dengan membayar kaffarah.
(HR. Al-Baihaqi)

Baca juga : 

2. Yang Tidak Berkewajiban


Tidak semua orang yang meninggalkan shalat
diwajibkan untuk mengqha' atau mengganti
shalat. Ada beberapa orang yang tidak diwajibkan
untuk mengqadha', di antaranya adalah anakanak, wanita haidh dan nifas, baru masuk Islam,

a. Anak-anak


Seorang anak kecil yang belum mengalami
baligh tidak diwajibkan untuk mengerjakan shalat,
baik shalat fardhu yang lima waktu atau pun
shalat sunnah. Oleh karena itu tidak ada
kewajiban untuk mengganti shalat bagi anak kecil,
apabila dia tidak mengerjakannnya.
Dasarnya adalah sabda Rasululah SAW :

Dari Ali radhiyallahuanhu dan Umar
radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah SAW
bersabda,"Pena telah diangkat dari tiga orang,
dari seorang yang tidur hingga terjaga, dari
seorang anak kecil hingga mimpi dan dari
seorang gila hingga waras "(HR. Ahmad, Abu
Daud, Al-Hakim)

b. Wanita Haidh dan Nifas


Wanita yang sedang haidh dan nifas
diharamkan oleh syariat untuk mengerjakan
shalat. Dasarnya adalah hadits-hadits berikut ini :

Baca Juga : 

Tata Cara Sholat Dhuha Bagi Pemula Lengkap


Dari Aisyah ra berkata"Fatimah binti Abi Hubaisy
mendapat darah istihadhah, maka Rasulullah
SAW bersabda kepadanya"Darah haidh itu
berwarna hitam dan dikenali. Bila yang keluar
seperti itu janganlah shalat. Bila sudah selesai
maka berwudhu'lah dan lakukan shalat. (HR. Abu
Daud dan An-Nasai).

Sedangkan tidak adanya kewajiban untuk
mengganti atau mengqadha' shalat bagi wanita
yang meninggalkan shalat karena haidh dan nifas,
didasari dengan hadits berikut ini :

‘Dari Aisyah r.a berkata : ‘Di zaman Rasulullah
SAW dahulu kami mendapat haidh lalu kami
diperintahkan untuk mengqadha’ puasa dan
tidak diperintah untuk mengqadha’ salat (HR.
Jama’ah).

c. Kafir Baru Masuk Islam


Orang kafir tidak diwajibkan untuk
mengerjakan shalat. Bahkan kalau dia
mengerjakan shalat dalam keadaan kafir, maka
shalat yang dilakukan tidak sah dan tidak diterima
di sisi Allah SWT.

Baca Juga : 

Tata Cara Sholat Fardhu 5 Waktu Lengkap Bergambar


Bila orang kafir itu kemudian masuk Islam,
maka tidak ada kewajiban atasnya untuk
mengganti shalat-shalat fardhu yang telah
ditinggalkannya selama ini. Sebab selama ini dia
bukan termasuk mukallaf, yaitu orang yang
mendapat beban taklif untuk mengerjakan detail detail syariah.
Kalau ada orang kafir masuk Islam di usia 70
tahun, maka dia hanya diwajibkan mengerjakan
shalat tetap ketika dia mengucapkan dua kalimat
syahadat.

Sedangkan masa 70 tahun dari
hidupnya yang tidak pernah ada shalat itu, tidak
diwajibkan untuk menggantinya. Sebab dengan
masuknya orang itu ke dalam agama Islam, maka
otomatis semua dosanya kepada Allah SWT telah
terhapus, namun tidak bila dosa itu kepada
sesama manusia.
Rasulullah SAW bersabda :

Masuk Islam sebelumnya itu menghapuskan dosa

Penulis : Ahmad Sarwat Lc,Ma

0 Response to "Ibadah Yang Bisa Di Qadha' dan Tidak Bisa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel