Bab Tayamum Sesuai Sunnah Rasulullah

Bab Tayamum Sesuai Sunnah Rasulullah

Bab Tayamum - Segala puji hanya milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup dan mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi besar kita Muhammad Rasululullah SAW, Muhammad bin Abdillah , beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Mungkin tidak jarang dari kita melihat beberapa dari saudara-saudara kita kalangan kaum muslimin yang masih asing dengan istilah tayammum atau pada beberapa yang lainnya hal ini tidak asing lagi akan tetapi belum mengenal bagaimana tayammum yang Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam ajarkan serta yang diharapkan oleh syari’at kita. Maka penulis mengajak pembaca sekalian untuk meluangkan waktu barang 5 menit untuk bersama mempelajari hal ini sehingga dikala tiba waktunya untuk diamalkan.

Pengertian tayamum


Kami mulai pembahasan ini dengan mengemukakan pengertian tayammum. Tayammum secara istilah dalam syari’at adalah sebuah peribadatan kepada Allah berupa mengusap wajah dan kedua tangan dengan menerapkan sho’id yang bersih. Sho’id adalah semua permukaan bumi yang dapat dipakai untuk bertayammum baik yang terdapat tanah di atasnya ataupun tak.

Dalil Alqur'an diisyaratkannya Untuk melakukan tayamum


“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau berhubungan badan dengan perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (QS. Al Maidah : 6).

Dalil berdasarkan Hadits Nabi Tentang tayamum


dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu,

“Dijadikan bagi kami (ummat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi was sallam ) permukaan bumi sebagai thohur/sesuatu yang digunakan untuk besuci (tayammum) jika kami tidak menjumpai air”.

Media yang Digunakan untuk Tayammum


Media yang digunakan untuk bertayammum adalah seluruh permukaan bumi yang bersih baik itu berupa pasir, tanah yang berair,bebatuan, lembab ataupun kering. Ini berdasarkan hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman rodhiyallahu ‘anhu di atas.

Situasi yang Dapat Menyebabkan Seseorang Bersuci dengan Tayammum


Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah menceritakan sebagian kondisi yang dapat menyebabkan seseorang bersuci dengan tayammum,

1. Kalau tak ada air bagus dalam kondisi safar/dalam perjalanan ataupun tak.

2. Terdapat air (dalam jumlah terbatas .) beriringan dengan adanya kebutuhan lain yang memerlukan air tersebut misalnya untuk minum dan memasak.

3. Adanya kekhawatiran bila bersuci dengan air akan berbahaya badan atau kian lama sembuh dari sakit.

4. Ketidakmapuan memakai air untuk berwudhu dikarenakan sakit dan tak sanggup bergerak untuk mengambil air wudhu dan tak adanya orang yang membantu untuk berwudhu beriringan dengan kekhawatiran habisnya waktu shalat.

5. Khawatir kedinginan bila bersuci dengan air dan tak adanya yang dapat menghangatkan air tersebut.

Tata Cara Tayammum Rasulullah shalallahu Shalallahu 'aaihi wa sallam


Tata cara tayammum Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dijelaskan hadits ‘Ammar bin Yasir rodhiyallahu ‘anhu,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam mengutusku untuk suatu keperluan, kemudian aku mengalami junub dan aku tidak menemukan air. Maka aku berguling-guling di tanah sebagaimana layaknya hewan yang berguling-guling di tanah. Kemudian aku ceritakan hal tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam. Lantas beliau mengatakan, “Sesungguhnya cukuplah engkau melakukannya seperti ini”. Seraya beliau memukulkan telapak tangannya ke permukaan bumi sekali pukulan lalu meniupnya. Kemudian beliau mengusap punggung telapak tangan (kanan)nya dengan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak tangan (kiri)nya dengan tangan kanannya, lalu beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

Dan juga dijelaskan dalam lafadz hadits riwayat Al- Bukhori,

“Dan beliau mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya dengan sekali usapan”.
Berdasarkan hadits di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwasanya tata cara tayammum rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam adalah sebagai berikut.

1. Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan bumi dengan sekali pukulan kemudian meniupnya.

2. Kemudian menyapu punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya.

3. Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan.

Semua usapan baik ketika mengusap telapak tangan dan wajah dilakukan sekali usapan saja.

Komponen tangan yang diusap yakni bagian telapak tangan sampai pergelangan tangan saja atau dengan kata lain tak sampai siku seperti pada ketika wudhu.

Tayammum dapat menghilangkan hadats besar contohnya janabah, demikian juga untuk hadats kecil.

Tak wajibnya urut/tertib dalam tayammum.

Hal-hal yang membatalkan tayamum


Pembatal tayammum sebagaimana pembatal wudhu.Tayammum tidak dibolehkan lagi apabila sudah ditemukan air terhadap orang yang bertayammum tadi,dikarenakan ketidakadaan air dan telah adanya kemampuan untuk menggunakan air atau tidak sakit lagi Khusus untuk orang yang bertayammum karena ketidakmampuannya menggunakan air.

Akan tetapi shalat atau ibadah lainnya yang telah ia kerjakan sebelumnya sah dan tidak perlu mengulanginya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam yang dieiwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu,

Dua orang lelaki keluar untuk safar. Kemudian tibalah waktu shalat dan tidak ada air di sekitar mereka. Kemudian keduanya bertayammum dengan permukaan bumi yang suci lalu keduanya shalat. Setelah itu keduanya menemukan air sedangkan saat itu masih dalam waktu yang dibolehkan shalat yang telah mereka kerjakan tadi. Lalu salah seorang dari mereka berwudhu dan mengulangi shalat sedangkan yang lainnya tidak mengulangi shalatnya. Keduanya lalu menemui Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dan menceritakan yang mereka alami. Maka beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan kepada orang yang tidak mengulang shalatnya, “Apa yang kamu lakukan telah sesuai dengan sunnah dan kamu telah mendapatkan pahala shalatmu”. Beliau mengatakan kepada yang mengulangi shalatnya, “Untukmu dua pahala”.

Dan Juga pada hadits yang lain Rasulullah shollallahu ‘alaihi was sallam bersabda yang di riwayatkan dari sahabat Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu,

“Seluruh permukaan bumi (tayammum) merupakan wudhu bagi seluruh muslim jika ia tidak menemukan air selama sepuluh tahun (kiasan bukan pembatasan angka), apabila ia telah menemukannya hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan menggunakannya sebagai alat untuk besuci”.

Hikmah Disyari’atkannya Tayammum


Sebagai Pesan penutup dari kami,Diantara hikmah dan tujuan disyari’atkannya tayyamum adalah untuk mensucikan diri dan asupaya kita bersyukur terhadap syari’at ini dan bukanlah sama sekali untuk membebankan kita, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 6 yang berbunyi,

“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak menyucikan kamu dan menyempurnakan nikmatNya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maidah : 6)
Demikianlah akhir dari Bab tayamum ini semoga menjadi tambahan ilmu pengetahuan serta ‘amal bagi penulis dan bagi pembaca semuanya. Amiin.


Penulis: Aditya Budiman


Muroja’ah: M.A. Tuasikal


Sumber : www.muslim.or.id

0 Response to "Bab Tayamum Sesuai Sunnah Rasulullah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel