Amalan Rasulullah Ketika Berbuka Puasa

Amalan Rasulullah Ketika Hendak Berbuka Puasa
sumber gambar : pixaby.com/id


Dakwahislami.id - Saat berbuka puasa hakekatnya terdapat beraneka amalan yang membawa kebaikan dan kebermanfaatan. Tetapi seringkali kita melalaikannya, lebih disibukkan dengan hal lainnya. Hal yang utama yang sering kali dilupakan yakni do’a. Secara lebih lengkapnya, mari kita lihat artikel berikut perihal sunnah-sunnah dikala berbuka puasa:

Menyegerakan saat berbuka puasa


Menyegerakan berbuka puasa maksudnya ialah, bukan berarti kita berbuka sebelum waktunya. Tetapi yang dimaksud yakni dikala sang surya sudah karam atau ditandai dengan dikumandangkannya adzan Maghrib, karenanya segeralah berbuka. Dan tak perlu hingga selesai adzan atau selesai sholat Maghrib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain juga disebutkan,


لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ

“Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah, sanad shahih)

Inilah yang dicontoh oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka mencontoh Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka dikala munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka. (Lihat Shifat Shoum Nabi,)

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam lazim berbuka puasa sebelum menunaikan sholat Maghrib dan bukanlah menunggu sampai sholat Maghrib selesai dilakukan. Inilah model dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud dan Ahmad, hasan shahih)

Berbukalah dengan rothb, tamr atau seteguk air


Sebagaimana diceritakan dalam hadits Anas bin Malik di atas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar menyenangi berbuka dengan rothb (kurma berair) sebab rothb sungguh-sungguh sedap dirasakan. Tetapi kita jarang menemukan rothb di negeri kita sebab kurma yang telah hingga ke negeri kita kebanyakan ialah kurma kering (tamr).

Kalau tak ada rothb, barulah kita mencari tamr (kurma kering). Kalau tak ada kedua kurma hal yang demikian, karenanya dapat beralih ke makanan yang manis-manis sebagai substitusi. Kata ulama Syafi’iyah, saat puasa penglihatan kita lazim berkurang, kurma itulah sebagai pemulihnya dan makanan manis itu semakna dengannya (Kifayatul Akhyar,). Kalau tak ada lagi, karenanya berbukalah dengan seteguk air. Inilah yang diisyaratkan dalam hadits Anas di atas

Sebelum berbuka puasa, ucapkanlah  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم supaya tambah berkah.


Inilah yang dituntunkan dalam Islam supaya makan kita menjadi berkah, artinya menuai kebaikan yang ban

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala (yaitu membaca ‘bismillah’). Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi , hasan shahih)

Dari Wahsyi bin Harb dari ayahnya dari kakeknya bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَأْكُلُ وَلاَ نَشْبَعُ. قَالَ « فَلَعَلَّكُمْ تَفْتَرِقُونَ ». قَالُوا نَعَمْ. قَالَ « فَاجْتَمِعُوا عَلَى طَعَامِكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ يُبَارَكْ لَكُمْ فِيهِ »

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang?” Beliau bersabda: “Kemungkinan kalian makan sendiri-sendiri.” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda: “Hendaklah kalian makan secara bersama-sama, dan sebutlah nama Allah, maka kalian akan diberi berkah padanya.” (HR. Abu Daud , hasan). 

Hadits ini menampakkan bahwa supaya makan penuh kebarokahan, karenanya ucapkanlah bismilah serta kebarokahan dapat bertambah dengan makan berjama’ah (bersama-sama).

Disunnahkan Berdo’a ketika berbuka Puasa


Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: ‘Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)’.” (HR. Abu Daud, hasan). 

Do’a ini bukan berarti dibaca sebelum berbuka dan bukan berarti puasa itu baru batal dikala membaca do’a di atas. Dikala mau makan, konsisten membaca ‘bismillah’ sebagaimana dituntunkan dalam penjelasan sebelumnya. Dikala berbuka, mulailah dengan membaca ‘bismillah’, lalu santaplah sebagian kurma, kemudian ucapkan do’a di atas ‘dzahabazh zhoma-u …’. Sebab do’a di atas sebagaimana makna tekstual dari “إِذَا أَفْطَرَ “, berarti dikala sesudah berbuka.

Catatan: 
Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, terhadap-Mu saya berpuasa dan terhadap-Mu saya berbuka)” Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah). Itu pula do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, terhadap-Mu saya berpuasa dan terhadap-Mu saya beriman, dan dengan rizki-Mu saya berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” yaitu tambahan yang tak dikenal sanadnya, padahal makna do’a hal yang demikian shahih. Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.

Berdo’a secara Umum,doa apa saja(doa baik) dikala berbuka.


Dikala berbuka yaitu waktu mustajabnya do’a. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Manfaatkan moment hal yang demikian untuk berdo’a terhadap Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : Pemimpin yang adil, Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, Do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi  dan Ibnu Hibban, shahih). 

Dikala berbuka yaitu waktu terkabulnya do’a sebab dikala itu orang yang berpuasa sudah mengatasi ibadahnya dalam kondisi patuh dan merendahkan diri (Lihat Tuhfatul Ahwadzi,).

Memberi makan kepada orang yang berbuka puasa


Bila kita dikasih kelebihan rizki oleh Allah, manfaatkan waktu Ramadhon untuk banyak-banyak berderma, di antaranya yaitu dengan memberi makan berbuka sebab pahalanya yang sangat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi , Ibnu Majah, dan Ahmad, hasan shahih)

Mendoakan orang yang telah memberi kita makanan berbuka


Dikala ada yang memberi kebaikan terhadap kita, karenanya balaslah misalnya saat dikasih makan berbuka. Sekiranya kita tak sanggup membalas kebaikannya dengan memberi yang misalnya, karenanya doakanlah dia. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

“Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do’akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud  dan Ibnu Hibban , shahih)

Baca juga : Jumlah rakaat sholat tarawih
                 : Tata Cara Pelaksanaan Shalat Tahajud dan Witir
                 : Tata Cara Sholat Istikharah Yang Benar Sesuai Sunnah

Dikala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan minum, beliau malah mengangkat kepalanya ke langit dan mengungkapkan,

اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى

“Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]” (HR. Muslim )

berbuka puasa di rumah orang lain


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau menyuarakan,

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ

“Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo’akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah  dan Ahmad , shahih)

Ketika menikmati susu saat berbuka puasa


Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ

“Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath’imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). 

Rasulullah shallallahu wa ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu.” (HR. Tirmidzi , Abu Daud , Ibnu Majah , hasan)

Minum dengan tiga nafas dan membaca  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كان يشرب في ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut beliau, beliau menyebut nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, beliau bertahmid (memuji) Allah Ta’ala. Beliau lakukan seperti ini tiga kali.” (Shahih, As Silsilah Ash Shohihah)

Berdoalah setelah berbuka puasa


Di antara do’a yang shahih yang bisa diamalkan dan mempunyai keutamaan luar umum merupakan do’a yang diajari dalam hadits berikut. Dari Mu’adz bin Anas, dari ayahnya dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَطْعَمَنِى هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّى وَلاَ قُوَّةٍ. غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang makan makanan kemudian mengucapkan: “Alhamdulillaahilladzii ath’amanii haadzaa wa rozaqoniihi min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin” (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan merizkikan kepadaku tanpa daya serta kekuatan dariku), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Tirmidzi no. hasan)

Tapi kalau mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah” sesudah makan juga dibiarkan menurut hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim) An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah” saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim)

Demikian sebagian amalan Rasulullah dikala berbuka puasa. Moga yang simpel ini dapat kita amalkan. Dan moga bulan Ramadhon kita penuh dengan kebaikan dan kebarokahan. Wallahu waliyyut taufiq.


Referensi : Rumaysho

0 Response to "Amalan Rasulullah Ketika Berbuka Puasa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel