Syarat Syah Adzan dan Muadzin Sebelum Shalat

Syarat Syah Adzan dan Muadzin Sebelum Shalat

Syarat Sah Adzan - Sebagaimana ibadah-ibadah lain,dalam hal adzan juga memiliki syarat sah.Dan sebelum kita menjabarkannya,ada baiknya untuk kita ketahui bersama fadhilah atau keutamaan seorang muadzin pada hari kiamat nanti,sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam

"Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala yang didapatkan dalam adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak dapat memperolehnya kecuali dengan undian niscaya mereka rela berundi untuk mendapatkannya…” (HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 980)

Berikut Penjelasan Syarat sah Adzan diantaranya:

1. Niat

Menurut Malikiyah dan Hanabilah, Niat merupakan salah satu syarat sah adzan sebagai penanda masuknya waktu shalat. Hal ini berdasarkan keumuman hadis umar tentang niat.

"sesungguhnya semua amal tergantung pada niat...” (Muttafaq ‘alaih)

Sebagai contoh, jika ada seseorang sedang mengucapkan lafadz takbir untuk dzikir, setelah itu dilanjutkan dengan adzan tanpa takbir kembali, maka tidak sah. Menurut pendapat ini, jika dia berniat untuk adzan, maka semua lafadzanya harus dulang dari awal setelah berniat. Adapun madzhab Hanafi dan Syafi’i, niat dalam adzan bukan lah syarat sah, hanya dianggap sebagai kesunahan.

2. Berbahasa Arab

Madzhab Hanafi dan Hanbali mensyaratkan adzan menggunakan Bahasa Arab. Dan dianggap tidak sah jika menggunakan bahasa lain walaupun diketahui banyak orang bahwa itu adalah terjemahan adzan.Sedangkan madzhab Syafi’i membolehkan dengan bahasa lain jika tidak ada yang bisa melafalkan bahasa Arab. Namun jika ada yang bisa melafalkan bahasa Arab, adzan dengan bahasa selain Arab dianggap tidak sah sebagaimana pendapat Hanafi dan Hanbali

3. Tidak Lahn (Salah Melafadzkan)

Lahn atau kesalahan pengucapan lafadz kadangakala bisa merubah atau merusak makna. Termasuk kesalahan dalam lafadz adzan adalah penggunaan tanda panjang yang tidak sesuai, misalnya huruf ba’ dalam lafadz Allahu Akbar dibaca pajang. Menurut jumhur ulama dari madzhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali, jika kesalahan ini sampai merubah makna, maka adzannya dianggap batal. Tapi jika tidak sampai merubah makna hukumnya makruh.

Namun menurut Ibn ‘Abidin dari kalangan Hanafiyah, kesalahan ucap atau lahn hanya dihukumi makruh

4. Pelafalan yang Berurutan

Lafadz adzan sudah memiliki nadzam atau teksnya sendiri sebagaimana yang ada di dalam hadis Abdullah ibn Zaid. Pendapat jumhur ulama mewajibnya kumandang adzan dengan lafadz yang sudah ada tersebut. Ketika terjadi pengucapan lafadz yang terbalik, tertukar urutannya, maka wajib diulang dari awal.Sedangkan menurut madzhab Hanafiyah, melafalkan secara berurutan dalam adzan dianggap sebagai hukum sunah. Menurut madzhab ini, jika terjadi pelafalan yang terbalik maka cukup diperbaiki saja pada lafadz tersebut tanpa mengulang dari awal

5. Berkesinambungan

Berkesinambungan adalah mengucapkan setiap lafadz adzan dengan cara berkesinambungan tanpa jeda dari satu kalimat dengan kalimat yang lainnya. Tentang apakah jika tidak berkesinambungan adzan menjadi tidak sah? Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat. Jika jeda yang terjadi hanya sesaat, baik dengan berbicara di sela-sela kalimat adzan, atau muadzin mengalami mimisan (keluar darah dari hidung), atau pingsan, maka tidak membatalkan adzan. Cukup dilanjutkan dari lafadz terakhir yang diucapkan. Pendapat ini dipilih oleh madzhab Hanafi, Maliki dan Hanbali. Adapun madzhab Syafi’i berpendapat, yang tidak membatalkan hanya bicara ringan dan diam di sela- sela kalimat adzan. Namun jeda karena sebab mimisan, pingsan walaupun sesaat bisa membatalkan adzan. Namun semua sepakat, bahwa berbicara di sela- sela adzan, walaupun sebentar, tetap dianggap makruh menurut jumhur ulama

6. Meninggikan Suara

Madzhab Syafi’i dan Hanbali mewajibkan meninggikan suara ketika adzan agar tujuan adzan itu tercapai. Jika yang dimaksud dengan adzan adalah untuk memanggil orang yang di luar masjid untuk melakukan shalat berjamaah. Namun jika adzan itu hanya untuk dirinya sendiri dan atau untuk jamaah yang sudah ada di dalam masjid, maka meninggikan suara tidak lagi menjadi syarat.Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw. kepada Abu Said al-Khudri ra

"sesungguhnya saya melihatmu suka kambing dan padang rumput (gembala), jika kamu sedang berada di tempat gembalamu kemudia kamu beradzan untuk shalat, maka angkatlah suaramu untuk memanggil. Karena sesungguhnya jika jin dan manusia mendengar sejauh suara muadzin, pasti akan menjadi saksi pada hari kiamat.”

Adapun menurut pendapat yang paling kuat menurut madzhab Hanafiyah dan Malikiyah meninggikan suara adalah sunah. Hal ini sebagaimana sabda Radulullah saw. kepada Abdullah ibn Zaid

"ajarkanlah adzan itu kepada bilal, karena dia lebih jauh dan lebih panjang suaranya dibandingkan kamu.”

Demikian penjelasan singkatnya.Allahu A'lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel