Hukum Adzan Menurut Jumhur Ulama

Hukum Adzan Menurut Jumhur Ulama

Hukum Adzan Berdasarkan Dalil dan Pendapat Jumhur Ulama - Adzan adalah merupakan salah satu syariat di dalam agama Islam yang memiliki tempat tersendiri di telinga dan hati muslim. Bagaimana tidak, untuk setiap hari adzn dikumandangkan sebanyak 5x dan diperdengarkan dari masjid-masjid dan surau-surau yang satu dan yang lainnya. Bahkan, yang mendengarkannya pun bukan hanya mereka shalat, bahkan yang tidak shalat sekali pun. lafadz-lafadz adzan sangat tidak asing di setiap telinga manusia, terutama untuk yang berdomisili di daerah mayoritas muslim, seperti halnya di Indonesia.

Namun, syariat yang sudah familiar ini tetap menyisakan beberapa “Pertanyaan” bagi sebagian umat Islam, baik yang berhubungan dengan hukum,tatacaranya,dll.Bahkan sering muncul pertanyaan tentang apakah boleh adzan dikumandangkan di luar waktu shalat? Misal , adzan di telinga anak yang baru dilahir?, atau ketika memasukkan jenazah ke liang lahat, atau dalam keadaan-keadaan genting lainnya.

untuk penjelasan lebih lanjut,mari kita simak ulasannya berikut.

A. Dalil tentang adzan

"Apabila waktu shalat telah tiba, maka hendaklah seorang dari kalian mengumandangkan adzan, dan seorang yang tertua diantara kalian bertindak sebagai imam.” (HR. Malik)

sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar – insyaAllah- bangkitlah bersama Bilal, dan sampaikan (ajarkan) kepadanya apa yang kamu mimpikan agar dia mengumandangkan adzan dengan lafadz tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)



Dari Ubaidillah ibn Abi Rafi’ dari bapaknya, dia berkata: Saya melihat Rasulullah saw. mengumandangkan adzan di telinga Al-Hasan ketika baru dilahirkan oleh Fathimah (HR. At- Tirmidzi) imam at-Tirmidzi mengatakn hadis ini adalah hadis shahih

jika kamu sedang berada bersama kambing- kambingmu atau di tempat gembalamu, kemudia kamu beradzan untuk shalat, maka angkatlah suaramu untuk memanggil. Karena sesungguhnya jika jin dan manusia dan segala sesuatu mendengar sejauh suara muadzin, pasti akan menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

Dari Muawiyah dia berkata: saya mendengar rasulullah saw. bersabda: “para muadzin adalah orang yang paling panjang lehernya paha hari kiamat.” (HR. Muslim)

B. Hukum adzan

Para ulama berbeda pendapat terkait hukum pelaksanaan adzan

1. Fardhu Kifayah untuk Semua Shalat Lima Waktu

Ulama dari kalangan madzhab Hanbali dan Maliki mengatakan adzan hukumnya fardhu kifayah dalam keadaan hadhar( tidaksafar). Begitupun madzhab Maliki perpendapat fardhu kifayah bagi masyarakat dalam sebuah pemukiman. Fardhu kifayah yang dimaksud adalah ketika sebagian orang melakukan, maka gugurlah kewajiban tersebut atas yang lainnya.Sebagian Kalangan Malikiyah memperjelas, yang dimaksud hukum fardhu kifayah adalah adzan di masjid jami’ atau masjid yang digunakan sholat jamaah lima waktu dan shalat jum’at. Pendapat ini juga berlaku bagi sebagian madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hanbali.

Dalil yang memperkuat pendapat ini (fardhu kifayah) adalah sabda Rasulullah saw

"jika waktu shalat telah tiba, maka hendaklah seseorang diantara kalian beradzan, dan hendaklah orang yang paling tua diatara kalian menjadi imam.” (HR. Bukhari)

2. Sunnah Muakkadah

Hukum sunnah muakkadah untuk adzan adalah pendapat rajih menurut madzhab Hanafi, juga dianggap ashah atau paling shahih menurut kalangan madzhab Syafi’i. Pendapat ini juga dianut oleh sebagian kalangan Maliki. Pendapat sunnah muakkadah ini didasari oleh hadis Rasulullah saw. tentang peristiwa orang yang shalatnya buruk (musi’ shalatahu) dan diminta mengulang shalatnya beberapa kali. Setiap kali mengulang, Rasulullah memintanya untuk memperhatikan gerakannya, wudhunya, serta menghadap kiblat. Namun dalam hadis itu tidak disebutkan untuk melakukan adzan. Seandainnya itu wajib, tentu Rasulullah pun akan memintanya mengulang adzan. Madzhab Hanbali juga perpendapat hukum adzan sunnah muakkadah jika dalam safar atau perjalanan. Namun jika tidak safar, maka wajib kifayah sebagaimana pendapat pertama.

3. Wajib Kifayah dalam Adzan Jum’at

Madzhab Syafi’i berpendapat, wajibnya adzan hanya ada pada sholat jumat. Karena sholat jamaah pada hari jumat hukumnya wajib, maka mengumandangkan adzan juga menjadi wajib. Sedangkan adzan pada selain adzan jumat menurut madzhab ini hukumnya sunnah muakkadah

Apakah boleh adzan dikumandangkan di luar waktu shalat ?

Imam an-Nawawi mengatakan pendapat sebagaimana disebutkan oleh Ibn Hajar al-Haitami, salah seorang ulama syafi’i menyebutkan

"Ada kalanya adzzan disunahkan selain untuk penanda masuknya waktu shalat, peperti adzan ditelinga anak yang baru lahir, adzan ketika keadaaan gundah gulana, orang yang terkena gangguna jin, saat marah, adzan saat menghadapi perilaku buruk dari manusia maupun hewan, ketika berkecamuk perang, ketika terjadikebakaran, ketika menurunkan janazah ke liang lahat dengan dalil kiyas terhadap anak yang baru lahir."

Pendapat ulama madzhab Syafi’i ini berdasarkan beberapa hadis berikut ini

"Dari Ubaidillah ibn Abi Rafi’ dari bapaknya, dia berkata: Saya melihat Rasulullah saw. mengumandangkan adzan di telinga Al-Hasan ketika baru dilahirkan oleh Fathimah (HR. At- Tirmidzi) Imam at-Tirmidzi mengatakn hadis ini adalah hadis shahih

Rasulullah saw. bersabda: siapa saja yang mendapatkan kelahiran anak, kemudian mengumandangkan adzan di telinganya sebelah kanan, kemudian mengumandangkan iqamah di telinga kiri, maka dia tidak adak diganggu oleh Ummu Shibyan (salah satu jenis Jin yang menganggu anak bayi)

berikutbya dari mazhab Hanbali yang berpendapat, adzan hanya untuk penanda waktu shalat, dan adzan pada telinga bayi yang baru lahir.Sedangkan mazhab Hanafiyah berpendapat yang relatif sama dengan mazhab Syafi’i. Madzhab Maliki juga tidak melarang mengamalkan adzan-adzan tersebut sebagaimana yang telah dikemukakan oleh mazahab Syafi’i dan lainnya.Tapi hanya Imam Malik yang menganggap semua itu adalah perbuatan bidah.

Adzan-adzan tersebut bersifat khusus dan untuk keadaan khusus, dan tentu dalam pelaksanaannya tidak sama persis dengan pelaksanaan adzan sebagai penanda masuknya shalat. Sebagai contoh, adzan di telinga anak yang baru lahir tidak perlu dikumandangkan dengan keras, apalagi menggunakan pengeras suara. Ini bisa membuat bingung banyak orang

Adzan untuk Shalat Fardhu yang Terlewat (qadha’)

Pendapat ini merupakan pendapat mu’tamad dalam madzahab Syafi’i

Abu Qataqah Al-Anshari meriwayatkan (di dalamnya ada kisah): Rasulullah saw. berbelok keluar jalan (untuk istirahat), dan meletakkan kepalanya seraya bersabda: “jagalah shalat kita.” Dan ketika itu yang paling pertama bangun adalah Rasulullah, dan matahari sudah mulai terbit. Dan kami bangun dengan terkaget. Kemudian beliau berka: “naiklah (di atas tunggangan.)” dan kami naik kemudian mulai berjalan. Ketika matahari sudah meninggi, belaiu turun (dari tunggangannya). Kemudian beliau meminta bejana wudhu, dan saya punya beberapa air untuk wudhu. Selanjutnya beliau berwudhu dengan wudhu yang lebih irit dari biasanya. Dan masih tersisa air di bejana tersebut. Kemudian beliau bersabda: “simpan bejana wudhumu itu, akan ada untuknya kabar gembira.” Selanjutnya Bilal mengumandangkan adzan, dan Rasulullah melakukan shalat sunnah dua rakaat kemudian dilanjutkan shalat Shubuh. Kemudian beliau melakukan rutinitas sebagaiman yang beliau lakukan setiap harinya. (HR. Muslim)

Sedangkan madzhab Maliki berpendapat, tidak perlu mengumandangkan adzan untuk shalat yang sudah terlewat waktunya (faitah). Bahkan adzan pada saat itu dihukumi makruh. Karena hukum asal pensyariatan adzan untuk penanda waktu shalat.Kemudian Jumhur ulama berbeda pendapat jika shalat yang terlewat tersebut jumlahnya lebih dari satu. Sebagai contoh, terlewat shalat dhuhur dan shalat ashar karena lupa atau karena ketiduran. Apakah perlu dikumandangkan adzan satu kali untuk dua shalat atau masing-masing shalat dengan adzan yang berbeda?

Madzhab Hanafi berpendapat, yang lebih utama adalah setiap shalat menggunakan adzan sendiri- sendiri. Sedangkan madzhab Syafi’i dan Hanbali berpendapat adzan hanya satu kali di awal, dan untuk shalat selanjutnya cukup dengan iqamah. Madzhab Hanafi pun membolehkan cara ini. Dalam hal ini, ada perbedaan riwayat tentang tatacara Rasulullah saw. qadha’ pada shalat yang terlewat di saat perang khandak. Riwayat pertama menyebutkan, beliau memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan setiap shalat beserta iqamahnya. Riwayat kedua menyebutkan adzan hanya di awal saja, dan shalat selanjutnya hanya dengan iqamah.

Dan riwayat ketiga, pada setiap shalat hanya cukup pakai iqamah tanpa kumandang adzan. Imam Syafi’i sendiri di dalam al-Umm justru memilih riwayat yang ketiga, yaitu semua shalat yang terlewat (diqadha’) masing-masing cukup dengan satu iqamah tanpa adzan. Terlebih lagi jika shalat itu dilakukan sendirian (munfarid) dan tidak mengharapkan datangnya jamaah. Karena maksud dikumandangkannya adzan adalah agar orang-orang berkumkul untuk shalat jamaah. Pendapat Imam Syafi’i ini berbeda dengan pendapat yang dipilih oleh madzhab (murid-muridnya).

Adzan untuk Dua Shalat Yang Dijama’

Jika dalam satu kesempatan perlu melakukan jama’ shlat, Dhuhur dan Ashar, atau Magrib dan Isya’, maka adzan cukup dilakukan satu kali di awal.

Hal ini seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. ketika menjama’ shalat Maghrib dan Isya’ di Muzdalifah satu dengan satu kali adzan di awal, dan iqamah pada masing-masing shalat. ini pendapat yang dipilih oleh madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hanbali dan sebagian Maliki

"hingga Rasulullah sampai di Muzdalifah, kemudian beliau shalat Maghrib dan Isya’ dengan satu adzan dan dua Iqamah (HR. Muslim)

Namun pendapat yang masyhur dari kalangan madzhab Maliki adalah shalat yang dijama menggunakan adzan dan iqamah masing-masing.

Adzan ketika memasukkan jenazah ke liang lahat

“Mayit masih mendengar adzan selama kuburnya belum diplester dengan tanah.” (HR. Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus no. 7587)

Namun hadits ini disepakati para ulama sebagai hadits yang lemah, bahkan palsu. Berikut keterangan para pakar hadits ketika menilai hadits di atas

Kesimpulannya, tidak ada dalil yang menganjurkan adzan ketika memasukkan jenazah ke liang lahat

Allahu a'lam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel