Cara Menghindari Riba dan Solusi Riba Dalam Islam

Cara Menghindari Riba dan Solusi Riba Dalam Islam

Berdasarkan ancaman-ancaman dari Al-qur'an dan hadits telah dijelaskan bahwa riba itu haram. Karenanya setiap muslim wajib membebaskan diri dari nya, dan karena riba adalah sebuah sistem dan tatanan ekonomi maka upaya menghindari dan membebaskan diri dari nya tidak bisa bersifat perorangan. Akan tetapi perubahan ini tetap dimulai dari masing-masing individu. Minimal diri sendiri dan keluarga terbebas dari muamalah ribawi.

Ini adalah kewajiban bersama seluruh kaum muslimin yang harus diawali dari setiap individu muslim. Dan karena sistem riba ini telah berlangsung lama dan mengakar kuat di masyarakat, maka perjuangan membebaskan diri darinya memerlukan waktu yang lama pula dan tidak mudah, namun bukan Sesuatu yang mustahil.

Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk membebaskan diri dari riba :

1. Pertama adalah dengan kesadaran dan menyadarkan masyarakat tentang bahaya riba. Kesadaran bahwa Allah dan rasulnya telah mengharamkan riba. Kesadaran yang menggugah semangat kuat untuk membebaskan diri darinya. Kita harus menyadarkan kaum muslimin yang masih belum atau tidak menyadari bahwa muamalah yang selama ini biasa mereka lakukan adalah riba. Bayangkan seseorang keluar dari rumahnya dengan dandanan necis dan rapi bekerja di bank bank ribawi bermuamalah dan bergelut dengan riba dalam kesehariannya, penghasilan utamanya dari riba. Sementara dia tidak sadar bahwa apa yang ia lakukan merupakan dosa besar yang setara dengan zinai ibunya. Sungguh tepat perkataan sebagian orang "bisa karena biasa."

Keyakinan bahwa membebaskan diri dari riba adalah sesuatu yang mungkin. Karena di antara orang-orang pengharaman riba ada yang merasa pesimis bisa terlepas darinya sehingga mereka masih terus berkutat dengannya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

"Tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah melainkan Allah akan mengganti dan dengan yang lebih baik darinya."(HR.ahmad)

2. Meminimalkan keterlibatan dengan riba dan sumber-sumbernya. Bila pun berinteraksi dengannya maka hanya sebatas darurat keamanan saja. Seperti ketika ingin menyimpan uang di bank untuk kemudahan transaksi bisnis, pilihnya bank yang sesuai Syariah. Kemudian pilih nya jenis tabungan yang aman dari syubhat dan riba yang terselubung. Seperti jenis tabungan wadi'ah (titipan) yang ditawarkan oleh beberapa bank syariah. Ini sejatinya hanya menitipkan uang di bank tanpa tambahan bunga apapun dan aman dari riba. Walaupun dalam praktik uang yang kita titipkan tersebut tetap saja berputar pada transaksi ribawi. Kita tidak terlibat langsung dalam transaksi tersebut. Patut menjadi renungan bahwa dalam Islam, harta yang tidak bergerak akan terus dikenakan zakat. Karena itu Islam mendorong para pemilik modal untuk menggerakkan modalnya agar tidak statis dan hanya menjadi angka-angka dibuku tabungan. Bisa dengan cara membeli tanah, rumah, untuk modal usaha dan aset-aset lainnya. Dengan begitu ekonomi masyarakat terus bergerak, lapangan kerja baru akan tersedia dan perputaran uang semakin sehat pada suatu negara.

3. Mendirikan lembaga keuangan syariah untuk mengalihkan kaum muslimin dari lembaga-lembaga ribawi kepadanya. Karena akan percuma manakala dorongan ingin lepas dari riba tidak mendapatkan wadahnya. Alhamdulillah dengan izin Allah ta'ala sekarang ini sudah ada beberapa lembaga yang Syar'i yang dapat dimanfaatkan kaum muslimin. Lembaga-lembaga menawarkan kredit rumah, mobil/ motor atau barang yang dibutuhkan tanpa bunga sedikitpun. Lembaga akan membeli dan memiliki terlebih dahulu barang yang dibutuhkan kemudian menjual lagi kepada pembeli secara kredit dengan akad yang jelas dan dengan harga yang jelas pula tanpa denda keterlambatan.

4. Menggalakkan akad mudharabah, kerjasama bagi hasil yang berdasarkan kejujuran dan keterbukaan. Laba dinikmati bersama sebagaimana rugi di dipikul bersama. Mengurangi akad utang piutang di bidang usaha karena ia bisa memicu riba.

5. Merubah mental masyarakat yang biasa berhutang. Bukan hanya orang yang membutuhkan yang berutang, kalangan orang kaya pun sering tergiur untuk mengembangkan usahanya lewat utang. Ketika lembaga finansial yang tersedia hanya lembaga ribawi maka mereka pun mau tidak mau mengambil utang dengan tambahan bunga angsuran. Utang bukan sarana untuk memakan harta orang dengan cara batil dan utang bukan satu-satunya solusi. Utang bersifat darurat, seorang muslim hendaknya tidak meremehkan utang. Urusan utang bukanlah perkara yang ringan, karena bila Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam meminta menshalatkan jenazah, beliau bertanya," dia memikul hutang?" bila mereka menjawab, ya" beliau bertanya," dia meninggalkan sesuatu untuk melunasi nya?" bila mereka menjawab tidak"maka beliau bersabda," kalian sajalah yang menshalatkannya."(HR.al-bukhari dan muslim)

Ingatlah bahwa hutang akan tetap ditagih di akhirat, karena itu bila seseorang terdesak untuk berhutang dia harus berusaha mati-matian durasinya di dunia.

6. Menjaga adab Luhur hutang piutang dalam Islam. Pemilik uang hendaknya menggunakan uangnya untuk membantu dengan niat mendapatkan pahala dari Allah ta'ala Semata, bukan untuk meraih laba dari hutang, dan bila dalam kesempitan saat jatuh tempo maka dia mengamalkan perintah Allah ta'ala

" dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tenggat waktu sampai dia ber kelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS.al Baqarah:280)

Sementara orang yang berhutang hendaknya berniat baik saat kebutuhan hidup mendesaknya untuk berhutang, yaitu niat untuk mengembalikannya bukan mengemplang nya. Apabila hutang sudah jatuh tempo dan ada kemampuan untuk melunasi Nya maka dia tidak boleh mengulur-ulur atau manunda-nunda pembayarannya. Dila adab-adab dipraktekkan dengan baik maka celah menuju riba dapat dipersempit.

satu perkara yang harus jujur diakui di antara sebab yang membuat pemilik uang malas membantu lewat Hutang adalah kekhawatiran terhadap uangnya. Kekhawatiran bahwa uang yang dia hutang kan tidak akan kembali, karena memang ada oknum yang mudah berhutang dan susah mengembalikan, akhirnya pemilik uang menolak memberi hutang atau setuju memberi hutang namun dengan mensyaratkan tambahan atas utang atau mensyaratkan jaminan yang harganya lebih tinggi dari hutang, dan bila peng hutang gagal melunasi, dia langsung menyitanya dan meraih laba darinya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

" siapa yang berhutang dan dia berniat untuk tidak melunasi Nya maka dia akan menemui Allah sebagai seorang pencuri."(HR. ibnu Majah dan dinilai "Hasan Shahih" oleh Syeikh al-albani)

Demikian artikel singkat saya Pada kesempatan kali ini tentang solusi membebaskan diri dari hutang riba dan semoga kita dipermudah oleh Allah ta'ala untuk Melunasi segala macam hutang piutang di dunia.

Allahu A'lam Bishawab

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel